Dunia Kereta dan Dunia Listrik, Ada disini!

Kamis, 01 Agustus 2019

Dunia Listrik - Data Logger Mudah dengan Excel-PLX dan Arduino


PLX - DAQ atau Parallax Data Acquisition merupakan add-ons data logger atau data akuisisi pada Excel yang dikembangkan oleh Parallax. Dengan menggunakan add-ons ini semua data dari plant yang dibutuhkan user dapat terekam secara real-time.


Berikut step demi stepnya:

1.    Menginstal
Langkah pertama, mendownload ZIP PLX-DAQ pada link berikut https://www.parallax.com/downloads/plx-daq, kemudian mengikuti langkah instalasi hingga selesai. Selanjutnya akan muncul ikon PLX-DAQ Spreadsheet pada desktop.

2.    Konfigurasi
Membuka aplikasi PLX-DAQ yang telah terinstal dan membuka book baru. Untuk menjalakan PLX-DAQ, Macros pada Ms. Excel harus diaktifkan, namun dengan catatan harus berhati-hati jika mengaktifkan macros tanpa mengetahui sumber add-ons yang akan dijalankan. Langkah untuk mengaktifkan macros adalah sebagai berikut,
a.    Membuka tab File.
b.    Klik Options.
c.    Klik Customize the Ribbon dan pada bagian Main Tabs, menceklis bagian Developer dan klik OK.
d.    Setelah itu, Main Tab Developer akan muncul, pada tab tersebut klik Macro Security  kemudian pada  Macro Settings memilih “enable all macros” seperti gambar dibawah lalu klik OK.





3.    Coding pada Arduino
Secara singkatnya, PLX-DAQ ini seakan-akan memindahkan tampilan serial monitor dan serial print pada arduino ke Ms.Excel. PLX-DAQ ini tetap menggunakan serial komunikasi UART sehingga code pada arduinonya tetap menggunakan Serial.print();
Berikut adalah contoh sederhana bagaimana coding PLX pada Arduino, dimana program ini akan menampilkan waktu komputer, waktu sampling dan tegangan dari pin A0.





4.    Running PLX dengan Ms. Excel
Setelah sketch pada Arduino IDE dibuat lalu sketch tersebut diupload ke board arduino. Langkah berikutnya untuk menjalankan PLX, hanya perlu masuk ke aplikasi PLX-DAQ spreadsheet, lalu Ms. Excel secara otomatis akan memberikan notifikasi bahwa terdapat Macro Active-X yang akan dijalankan, maka klik OK dan kemudian akan muncul tampilan seperti berikut.



Pada kotak dialog PLX disini hal yang harus dilakukan adalah memilih Port (Arduino) dan Baud Rate yang sesuai dengan sketch arduino yang telah dibuat sebelumnya, jika sudah terdapat kesesuaian maka klik Connect.


Dari script yang dibuat pada sketch arduino tadi, akan menghasilkan sebuah tabel log data secara real time seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah. Jika akan mengakhiri prosesi pengambilan data maka klik Disconnect.




Ditulis oleh: Ryoki TE15.

Sumber penulisan :



Share:

Dunia Kereta - Adopsi Teknologi Kapal, Mobil F1, dan Pesawat untuk Kereta Api


Teknologi kereta api sudah berkembang pesat sehingga keselamatan transportasi ini pun makin terjamin. Penelitian di bidang kereta api pun terus dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyaman penumpang dan tentu saja peningkatan effisiensi. Salah satu komponen penting kereta api yang terus dilakukan riset adalah roda dan bogie.

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa tidak mengadopsi teknologi transportasi lain untuk kereta api? Untuk bisa mengadopsi teknologi kendaraan lain maka catatan pertama yang harus diperhatikan adalah keamanannya. Selanjutnya, masa pakai kereta adalah 30-50 tahun sehingga juga harus diperhatikan. Salah satu lembaga penelitian tentang kereta api yang ada di inggris telah berinisiatif untuk melakukan penelitian ini, lembaga tersebuat adalah RSSB (Rail Safety and Standart Board).

Pada penelitian yang dilakukan RSSB seperti dikutip dari Global Railway Review Edisi Juli 2019 ada tiga mode transportasi yang diadopsi teknologinya untuk kereta apai yaitu: kapal, mobil balap F1, dan pesawat. Berikut pembahasannya, silakan baca sampai selesai.

Adopsi Teknologi Kapal

Kapal memiliki berat yang lebih ringan karena sebagian besar bahannya adalah carbon fibre. Untuk itu, telah dilakukan penelitian untuk memakai carbon fibre sebagai bogie frame. Bogie frame dengan bahan carbon fibre ini memiliki berat 35 kali lebih ringan dibandingkan dengan bogie dengan bahan besi. Bayangkan jika disatu kereta saja ada dua bogie dan satu rangkaian ada sepuluh kereta, total ada 20 bogie. Jika satu bogie material besi berat 40 ton, maka bogie carbon fiber ini hanya memiliki berat 1,15 ton. Jelas penurunan yang drastic. Apa pengaruhnya? Semakin ringan kereta maka daya traksi yang dibutuhkan semakin kecil. Semakin kecil daya traksi maka dapat semakin hemat BBM/ listrik. Pada penelitian ini, komponen bogie lainya seperti axle box masih terbuat dari besi, sehingga penelitian lebih lanjut masih dilakukan. Bogie prototype dari bahan carbon fiber telah sukses uji lab dan sekarang berada di University of Huddersfield dan rencananya akan dilakukan pengujian lapangan di akhir tahun 2019.


Gambar. Bogie carbon fiber

Adopsi Teknologi Mobil Balap F1

Teknologi yang diadopsi dari mobil balap F1 adalah suspensinya. Mobil F1 memakai inerter sebagai komponen suspensinya. Pengertian inerter diambil dari Wikipedia adalah “an inerter is a two-terminal device in which the forces applied at the terminals are equal, opposite, and proportional to relative acceleration between the nodes.” Lebih jelas silakan lihat gambar inerter dibawah ini.

Gambar. Inerter

Inerter terbukti bisa memperbaiki kontak antara ban dan jalan pada mobil F1. Penggunaan inerter pada kereta diharapkan dapat memperbaiki kontak antara roda dan rel sehingga lebih awet dan dapat mengurangi biaya maintenance.


Adopsi Teknologi Pesawat

Jika pada mobil F1 diadopsi bahan suspensinya, maka pada pesawat diadopsi cara kontrol suspensinya yaitu dengan menggunakan active suspension atau disebut ARSS(Active Radial Suspension System). Apa itu active suspension (suspense aktif)? Jika ada suspensi aktif maka ada suspensi pasif. Suspensi pasif adalah suspensi yang tanpa pelu diatur misalnya yang banyak dipakai seperti spring dan karet. Sedangkan pada suspensi aktif bisa diatur, contoh suspensi aktif adalah air suspension dimana tinggi air suspension bisa diatur berdasar berat kereta. Bahkan yang lebih canggih, sebagai ilustrasi sederhana, ketika melewati jalan berlobang, mobil dengan aktif suspension bisa diatur berapa lama lonjakan yang terjadi. Sedangkan pada pasif suspension lamanya lonjakan penumpang tidak bisa diatur dan berhenti secara alami sesuai getaran spring suspensinya. Teknologi aktif suspensi pada pesawat yang diadopsi adalah dengan electro-hydraulic yang diharapkan dapat memperhalus kontak antara roda dan rel ketika terjadi lonjakan missal di wesel.


Gambar. ARSS

Referensi:
ttps://www.hud.ac.uk

Share:

Selasa, 02 Juli 2019

Dunia Kereta - DAS Tingkatkan Efektivitas Perawatan Lintas Rel



Perawatan lintas rel merupakan hal yang penting dan krusial karena rel yang kondisinya sudah tidak baik dapat menimbulkan suara bising atau bahkan kecelakaan kereta. Akan tetapi, perawatan ini perlu dilakukan dalam waktu yang tepat, jika terlalu sering maka akan mengganggu operasional dan jika terlalu jarang maka akan berisiko. Untuk itu, seorang manager perawatan memerlukan data yang cukup untuk mengambil keputusan apakah akan dilakukan perawatan disatu lintas tertentu.


Gambar 1. Teknologi DAS

Untuk mendapatkan data tadi biasanya diperoleh dari kereta ukur (measurement car) atau dari sensor yang dipasang ditempat tertentu. Penggunaan kereta ukur tidak bisa terus menerus sehingga data yang diperoleh hanya periodic. Sedangkan pemasangan sensor tidak bisa dilakukan di sepanjang jalur lintas karena akan sangat mahal. Peneliti dari Technical University Graz Austria mengusulkan penggunaan fiber optic untuk mengetahui kondisi rel berdasarkan suara yang dihasilkan kereta ketika melewati lintas. Jadi fiber optic disini berperan sebagai sensor suara (akustik) kemudian dikirimkan ke pusat kendali untuk diidentifikasi dan mengetahui kondisi lintas. Dengan demikian kondisi lintas bisa diketahui setiap waktu. Dan karena harga fiber optic lebih murah dibanding sensor konvensional yang dipakai sehingga bisa dipasang sepanjang lintas. Teknologi ini dikenal dengan DAS (Distributed Acoustic System).


Gambar 2. Contoh data DAS

Selain itu sensor fiber optic ini juga dapat dipakai untuk mengetehui lokasi kereta karena dipasang sepanjang lintas dan juga untuk mendeteksi adanya kerusakan pada roda kereta. Karena roda yang cacat (flat) akan menghasilkan suara yang berbeda ketika melintas di rel. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan hasil deteksi sensor suara dari fiber optic. Berdasarkan gambar tersebut terlihat jelas bahwa pada bagian-bagian tertentu memiliki nilai spectrum frekuensi yang lebih tinggi, dan disitulah roda kereta atau axle berada. Kondisi ini dibandingkan dengan kondisi normal yang ada di data base. Jika ada perbedaan maka itu adalah indikasi kerusakan yang perlu dilihat, sedangkan lokasinya juga telah terpantau dari sensor fiber optic untuk dengan mudah diobservasi lapangan.

Referensi:
www.globalrailwayreview.com

Share:

Senin, 24 Juni 2019

Dunia Kereta - Rangkaian Fleksibel Perbaiki Load Factor dan Konsumsi Energi Kereta


Pada artikel kali ini akan kita lanjutkan pembahasan tentang cara – cara melakukan penghematan energy pada operasional kereta api. Salah satu cara yang bisa dilakukan  untuk penghematan konsumsi energy ini adalah dengan menggunakan rangkaian fleksibel. Apa itu rangkaian fleksibel? Yaitu rangkaian kereta yang dapat dipasang dengan jumlah kereta (car) yang banyak dan sedikit berdasarkan jumlah penumpang yang ada. Hal ini akan memperbaiki load factor, yaitu perbandingan jumlah penumpang dan jumlah kursi yang ada. Semakin banyak penumpang atau kursi yang terpakai maka energy yang dikeluarkan dapat terfungsikan dengan baik.




Mari kita bahas lebih dalam pada kereta penumpang maupun kereta barang. Pada kereta penumpang ada dua tipe yaitu kereta yang ditarik lokomotif dan kereta berpenggerak (multiple unit – MU). Pada kereta tipe pertama jika jumlah kereta dalam satu rangkaian dapat dipadatkan sesuai jumlah penumpang yang ada maka secara tinjauan konsumsi energy pasti akan lebih hemat. Misalkan rangkaian dengan sepuluh kereta untuk berjalan dengan kecepatan 100 km/jam memerlukan total energy 500 kJ, maka jika jumlah penumpang sedikit, rangkaian dapat dipadatkan menjadi 8 kereta hal ini akan mengurangi konsumsi menjadi, katakana, 450 kJ. Hal ini karena energy diperoleh dari formula W=P*t sedangkan daya (P) diperoleh dari rumus P=F.v artinya dengan kecepatan yang sama, jika F kecil maka P kecil dan dantinya W juga kecil. Sedangkan F kita tahu sendiri sebanding dengan massa kereta dimana F=Ma, massa kali percepatan kereta api.

Sedangkan untuk kereta tipe MU biasanya berbentuk train set dan sulit untuk dipisahkan antar keretanya. Maka solusi rangkian fleksibel pada MU adalah dengan membuat rangkaian trainset yang tidak terlalu panjang. Misal, satu set MU awalnya terdiri dari enam kereta dipecah menjadi dua set dengan masing – masing set hanya tiga kereta.Cara ini akan meningkatkan fleksibilitas rangkaian. Dimana ketika full load kereta dapat disatukan, sebaliknya ketika penumpang sepi kereta dapat dipisahkan menjadi dua dan bisa melayani rute yang berbeda.


Bagaimana kasusnya untuk kereta barang? Mari kita diskusikan bersama, coba tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.

English title: Flexible train help reduce energy consumption

Artikel terkait:



Share:

Sabtu, 11 Mei 2019

Dunia Listrik - Cara Kerja kWh Meter Digital


Setelah sebelumnya dibahas tentang cara kerja kWh meter analog, mari kita pelajari bersama cara kerja kWh meter digital. Seperti telah dijelaskan pada artikel kWh meter analog bahwa prinsip kerja kWh meter adalah mengukur konsumsi daya setiap jam (kilo watt hour) yang dilakukan dengan mengukur arus dan tegangan kemudian mengalikan arus dan tegangan untuk mendapatkan besaran daya. Jika pada kWh meter analog pengukuran arus dan tegangan melalui prinsip induksi kumparan, pada kWh meter digital telah memanfaatkan sensor untuk pengukurannya.
  

Gambar 1. Rangkaian sederhana kWh meter digital

Rangkaian sederhana dari kWh meter digital ditunjukkan pada Gambar 1. Dimulai dari sensor arus dan tegangan kemudian output sensor masuk ke modul ADE7757 untuk menghitung nilai kWh yang digunakan. Setelah itu masuk ke mikrokontroller. Mikrokontroller terkoneksi ke LCD untuk menampilkan status konsumsi listrik (kWh) dan untuk menampilkan token ketika isi pulsa. Keypad dipakai untuk memasukkan token pulsa. Terakhir relay bertugas untuk memutus listrik apabila pulsa habis. Jadi cara kerjanya adalah, mikrokontroller menerima perhitungan daya oleh modul ADE7757 kemudian mengurangi saldo kWh yang ada. Jika saldo kWh sudah mencapai nol, maka relay diperintahkan untuk memutus aliran listrik.


Gambar 2. Bagian – bagian kWh meter digital

Gambar 2 menunjukkan bagian – bagian pada kWh meter digital. Nameplate dengan meter seri menunjukkan seri kWh meter. Led hijau dan merah sebagai indicator nominal yang masih. LCD untuk menampilkan status misalnya kWh yang tersisa dari pulsa yang dibeli. Keypad untuk memasukkan token listrik. Terminal block untuk koneksi kabel ke kWh meter. Label wiring menunjukkan bagaimana cara koneksi kabelnya. Terminal cover untuk menlindungi kabel agar tidak tersentuh. Lubang MCB untuk pemasangan MCB.


Gambar 3. Pemasangan kWh meter digital

Cara pemasangan kWh meter digital ditunjukkan pada Gambar 3. Kabel fasa warna merah, netral warna biru, dan ground warna kuning. Kabel fasa masuk ke kWh kemudian outpunya ke MCB dulu sebelum ke peralatan listrik rumah. MCB disini sebagai pengaman misalnya ketika ada beban lebih maka akan trip. Kabel netral masuk kWh dan output dari kabel netral langsung ke beban listrik. Ground diambil dari kabel yang ditanam ke tanah kemudian masuk ke kWh meter dan diparalel langsung untuk ke beban listrik, seperti ditunjukkan pada Gambar.3. MCB kedua pada kotak rumah pelanggan adalah opsional.

Demikian sedikit penjelasan tantang cara kerja kWh meter digital. Jika ingin tahu cara kerja kWh meter analog, silakan baca: Cara Kerja kWh Meter Analog.

Referensi:
Abid Ashar Khoirudin, kWh meter digital prabayar untuk skala rumah tangga dengan menggunakan system voucher, repo.pens.ac.id.

Share:

Jumat, 26 April 2019

Dunia Kereta - Dual Power Locomotive - Part 2


Artikel ini merupakan pembahasan lanjutan dari artikel Dual Power Locomotive – Part 1. Silakan baca part 1 untuk lebih jelasnya.


Gambar 4. Skema kelistrikan utama

Gambar 4 menunjukkan skema kelistrikan utama pada lokomotif ALP-45DP. Dimana skema tersebut menunjukkan adanya sebuah trafo dengan dua buah belitan sekunder yang masing – masing terhubung dengan dua buah blok converter. Ada juga dua engine dan dua alternator yang tercouple dan masing – masing terhubung ke salah satu block converter. Blok converter adalah tempat untuk mengolah daya listrik dari sumber baik itu LAA melalui trafo maupun dari mesin diesel melalui alternator menjadi daya listrik yang mempu menggerakkan motor traksi dan mensuplay system auxiliary.


Masing – masing block converter ini terdapat 4QC (Quadrand Converter), Chopper, Brake resistor, Traction inverter dan auxiliary inverter. 4QC disini berfungsi sebagai rectifier yang mengubah listrik AC dari trafo maupun alternator menjadi listrik DC. Listrik DC kemudian masuk ke traction inverter untuk diolah menjadi listrik AC 3 phase variable untuk mengatur gerak motor traksi, pada jalur ini juga terkoneksi chopper yang berfungsi untuk membuang energy hasil dynamical braking menuju resistor. Sedangkan listrik DC dari 4QC satunya langsung masuk ke auxiliary inverter untuk mensuply system auxiliary.

Masing – masing motor traksi disuply secara individual dengan satu traction inverter, sehingga total ada empat traction inverter. Sedangkan auxiliary inverter ada dua, satu di masing – masing converter box. Pada kondisi normal, hanya satu auxiliary inverter yang mensuplay beban auxiliary karena sudah mencukupi, sedangkan yang satunya berfungsi sebagai back up. Sedangkan jika ada salah satu traction inverter rusak, maka tenaga kereta berkurang yang berimbas pada kecepatan kereta yang berkurang.

Selanjutnya akan kita bahas bagaimana cara perpindahan sumber energinya dilakukan dari diesel ke listrik dan sebaliknya. Pada perubahan dari mode diesel ke listrik dilakukan sebagai berikut. Pada kondisi normal dua engine menyala, kemudian salah satu engine dimatikan (missal engine 2). Pada kondisi ini converter 2 masih mendapatkan supply dari engine satu dengan adanya koneksi pada DC link. Kemudian pantograph naik dan mensupply listrik ke trafo, bagian sekunder trafo mensuplay 4QC. Ketika output 4QC sudah sama dengan kondisi DC link maka listrik DC dari sumber LAA bisa dikoneksikan secara parallel dengan DC-link, satu dari diesel, satu dari LAA. Kemudian engine 1 mulai dimatikan dan trafo sekunder pada sisi converter satu disambungkan. Selanjutnya kereta disupply full secara elektrik dari LAA. Perpindahan dari mode elektrik ke mode diesel dilakukan dengan cara yang sama.

Gambar 5. Sisi dalam cabin lokomotif ALP-45DP

Pada saat perpindahan mode dari diesel ke elektrik dan sebaliknya, listrik pada DC link masih tetap ada sehingga system auxiliary kereta masih bisa menyala demikian pula system propulsinya. Akan tetapi, pada desain awal kereta ini, perpindahan mode dilakukan pada saat kereta berhenti atau tidak ada daya ke system propulsi.

Demikian pembahasan sekilas tentang lokomotif dual power, ALP-45DP semoga bisa menambah wawasan kita tentang teknologi yang ada pada kereta api. Simak dan ikuti terus keretalistrik untuk mendapat update terkini mengenai teknologi perkeretaapian. Selain itu, jangan lupa follow instagram kami ya di @keretalistrik2007. Terima kasih.


Referensi:
Mark Hooley, James Martin, Gaetan Roy, The ALP-45 Dual Power Locomotive.

Share:

Dunia Kereta - Dual Power Locomotive - Part 1


Pada artikel kali ini akan kita pelajari bersama tentang Dual Power (DP) locomotive atau lokomotif dengan memakai dua sumber energy. Lokomotif DP berbeda dengan lokomotif hybrid karena pada lokomotif hybrid memungkinkan penggunaan sumber energy secara bersamaan, sedangkan pada system DP energy digunakan bergantian. Meskipun pada saat pergantian kedua energy sempat digunakan bersamaan agar lokomotif tidak usah berhenti ketika penggantian sumber energy.

Pada pembahasan lokomotif DP ini kita akan mengambil contoh pada salah satu lokomotif produk Bombardier yaitu ALP-45DP. Lokomotif ini memiliki sumber energy dari mesin diesel dan dari listrik. Pada pengoperasian diesel lokomotif memiliki tenaga sebesar 4200hp sedangkan pada saat mode listrik lokomotif memiliki tenaga sebesar 5360hp. Lokomotif ALP-45DP diluncurkan pada tahun 2010 dan sekarang dioperasikan di Montreal, Kanada.


Gambar 1 Lokomotif dual power ALP-45DP

Alasan utama dibuat lokomotif dengan system DP adalah pada lintasan jarak jauh, belum semua lintasan kereta api ter-elektrifikasi. Sebelumnya jika terjadi perpindahan lintas dari yang sudah ter-elektrifikasi dan belum, maka penumpang harus berpindah kereta. Meskipun kebanyakan perpindahan dilakukan di stasiun, tapi cukup memakan waktu. Dengan adanya terobosan lokomotif DP, maka ketika terjadi perpindahan lintas yang ter-elektrifikasi dan belum, penumpang tidak perlu repot – repot berpindah kereta api.



Bukankan kereta yang memiliki sumber energy diesel bisa saja melintas di lintasan ter-elektrifikasi cukup dengan tenaga diesel saja? Benar, seperti yang ada di stasiun Gambir misalnya, ketika lokomotif melintas jalur yang ada LAA nya. Akan tetapi, jika dianalisa lebih lanjut, ketika lokomotif bisa memanfaatkan LAA sebagai sumber energy maka akan lebih menguntungkan. Selain bisa menghemat BBM dan mengurangi polusi, lokomotif mode listrik akan memiliki tenaga yang lebih besar. ALP-45DP memiliki kecepatan maksimum 100 km/jam pada mode diesel dan 125 km/jam pada mode listrik. Selain itu dalam mode listrik maka lokomotif tidak menimbulkan suara yang bising.

ALP-45DP sendiri pada saat mode listrik bisa dipakai pada tiga jenis tegangan listrik yang berbeda yaitu: 25 kV 60Hz, 12,5 kV 60 Hz dan 12 kV 25 Hz (semua jenis LAA AC). Sedangkan untuk mesin dieselnya, dipakai dua mesin diesel Caterpillar 3512.


Gambar 2. Komponen dalam ALP-45DP



Gambar 2 menunjukkan komponen yang ada dalam lokomotif ALP-45DP. Seperti dapat dilihat, kelemahan dari lokomotif ini adalah cabin masinis hanya ada satu. Hal ini karena keterbatasan space yang ada. Dengan dua engine, trafo, converter yang ada. Komponen – komponen pada lokomotif ini dibuat dengan system modular seperi dapat dilihat pada Gambar 3. Hal ini bertujuan agar penggantian komponen ketika terjadi kerusakan lebih mudah dan murah karena hanya mengganti modul tertentu saja tidak ke seluruh bagian kereta. Selanjutnya Part 2.


Gambar 3. Komponen modular pada ALP-45DP


Referensi:
Mark Hooley, James Martin, Gaetan Roy, The ALP-45 Dual Power Locomotive.

Share:

Jumat, 29 Maret 2019

Dunia Kereta - Kereta Masa Depan SNCF


Saat ini persaingan perusahaan kereta api baik itu industry maupun operator semakin ketat. Era revolusi industry 4.0 ini semakin terasa dengan pemanfaatan teknologi digital termasuk pada sector kereta api. Berkembangnya bidang kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI) dan juga energy storage system seperti teknologi baterai akan memperngaruhi pula perkembagan teknologi kereta api masa depan. Untuk merespon perkambangan zaman ini, salah satu operator kereta api besar yaitu SNCF melakukan tiga inovasi yaitu: Connected, Driverless dan Emission free. Lebih jelas, baca artikel ini sampai selesai.




Connected Train
Connected train atau kereta yang terkoneksi maksudnya adalah kereta api terkoneksi secara real time dengan stasiun pengendali. Kemudian semua data yang ada di kereta baik itu mengenai komponen maupun trafik dipantau secara online. Selain itu data-data tadi juga di kelola menjadi sebuah data yang besar atau dikenal dengan big data. Big data ini kemudian diolah untuk memprediksi kapan perawatan komponen harus dilakukan sehingga dapat mencegah kegagalan komponen ketika kereta beroprasi. Selain itu biaya perawatan juga bisa ditekan karena perawatan dilakukan benar-benar pada waktu yang diperlukan sesuai hasil analisa data.
Selain untuk keperluan maintenance, connected train juga diperlukan untuk pensinyalan dengan metode moving block. Beberapa teknologi pensinyalan modern sudah memanfaatkan teknologi ini sehingga posisi kereta secara real time bisa diketahui. Kemudian jumlah traffic kereta di lintas dapat dioptimalkan. Contoh system pensinyalan yang sudah menerapkan teknologi connected train adalah ETCS di Eropa dan ATC di Jepang.

Driverless Train
Driverless train atau kereta tanpa masinis terbukti memberikan performa yang lebih baik dibanding kereta dengan masinis. Hal ini karena kecepatan, traffic dan penggunaan lintas bisa lebih dioptimalkan karena diatur oleh control center. Untuk yang satu ini SNCF sendiri sudah melakukan kerjasama dengan Technology Research Institute (IRT) dengan empat focus riset yaitu:

  1.   .    Obstacle detection, deteksi objek di depan arah gerak kereta
  2.   .    Signal reading, pembacaan sinyal secara otomatis
  3.   .    Remote driving, pengendalian kereta jarak jauh
  4.   .    Autonomous, system driverless itu sendiri

Zero Emission
Penguranan emisi sudah dilakukan dengan menggunakan teknologi kereta listrik. Bersumber dari Global Railway Review Magazine, penggunaan kereta listrik oleh SNCF telah mengurangi emisi sebesar 80 % dibanding kereta diesel. SNCF ingin menekan lagi tingkat emisi yang ada. Cara yang dilakukan yaitu dengan memakai energy storage system seperti baterai. Jadi, listrik yang ada di LAA diminimalkan, tetapi ketika kereta perlu energy lebih untuk akselerasi, maka energy diambil dari baterai. Selain itu kereta berbahan bakar hydrogen juga menjadi opsi.

Referensi:
www.globalrailwayreview.com/article/77742/sncf-sustainable-connected-rolling-stock/

Share:

Translate

Tentang Penulis

Tentang Penulis
[click foto utk detail]

Follow IG

Diberdayakan oleh Blogger.

Highlight

Dunia Kereta - Flywheel: Solusi Efisiensi Energi Kereta Listrik

Seperti telah kita pelajari bersama pada Sistem Propulsi Kereta Rel Listrik (KRL)  bahwa pada KRL memungkinkan tiga jenis pengereman yaitu ...

Flag Counter

Flag Counter